Thursday, May 21, 2015

KEAMANAN KOMPUTER

KEJAHATAN KOMPUTER
• Virus, SPAM, Penyadapan, Carding
• Denial of Services (DoS) / melumpuhkan target

VIRUS KOMPUTER
Virus Komputer merupakan program komputer yang dapat menggandakan atau menyalin dirinya sendiri dan menyebar dengan cara menyisipkan salinan dirinya ke dalam program atau dokumen lain. Virus komputer dapat dianalogikan dengan virus biologis yang menyebar dengan cara menyisipkan dirinya sendiri ke selmakhlukhidup.
Virus Komputer dapat merusak (misalnya dengan merusak data pada dokumen), membuat pengguna komputer merasa terganggu, maupun tidak menimbulkan efek sama sekali.

SPAM
Spam atau bisa juga berbentuk junk mail adalah penyalahgunaan sistem pesan elektronik untuk mengirim berita iklan dan keperluan lainnya secara massal. Umumnya, spam menampilkan berita secara bertubi-tubi tanpa diminta dan sering kali tidak dikehendaki oleh penerimanya. Pada akhirnya, spam dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi para pengguna situs web. Orang yang menciptakan spam elektronik disebut spammers.
Bentuk spam yang dikenal secara umum meliputi : spam suratelektronik, spam pesaninstan, spam Usenet newsgroup, spam mesinpencari informasi web (web search engine spam), spam blog, spam wiki, spam iklanbaris dan spam jejaringsosial.
Beberapa contoh lain dari spam, yaitu pos-el berisi iklan, surat masa singkat (SMS) pada telepongenggam, berita dalam suatu forum kelompok warta berisi promosi barang yang tidak terkait dengan kegiatan kelompok warta tersebut, spamdexing yang menguasai suatu mesinpencari (search engine) untuk mencari popularitas bagi suatu URL tertentu, berita yang tak berguna dan masuk dalam blog, buku tamu situs web, Transmisi faks, iklan televisi & spam jaringan berbagi

PENYADAPAN KOMPUTER
Kejahatan PENYADAPAN lewat komputer atau PC, yang mana sasarannya adalah untuk mecuri data penting yg berhubungan dengan "online banking, money transfer, transaksi kartu kredit, online booking, rahasia perusahaan.
Periksalah bagian belakang dari komputer yg akan anda gunakan, apakah anda menemukan "Device" (alat) seperti gambar dibawah ini ?

Jika ya, maka jangan menggunakan komputer tersebut !!!
Additional Adapter (adaptor tambahan)
Device atau adaptor tambahan tersebut dipasang pada bagian ujung dari kabel keyboard yang kemudian dihubungkan pada CPU komputer, sehingga alat ini dapat menyimpan semua data yg terketik lewat keyboard.
Mengingat bahayanya, kemungkinan besar lokasi penggunaan alat penyadap ini adalah di warnet, pusat eksebisi/pameran, hotel, fasilitas internet gratis di bandara atau airport, dsb.

Untuk itu waspada dan berhati2lah jika menggunakan internet di tempat2 seperti itu jika anda ingin mengecek rekening bank online anda, transaksi kartu kredit atau booking online. Karena setelah anda selesai mengguna kannya, akan mudah bagi si penyadap untuk membuka kembali nomor rekening bank anda, dikarenakan semua data yang telah anda ketik akan tersimpan dalam "black device atau alat penyadap" tersebut.

CARDING (Penipuan Kartu Kredit)
Carding adalah istilah yang digunakan untuk pencurian dan penipuan yang dilakukan menggunakan kartu kredit atau mekanisme pembayaran yang sama sebagai sumber penipuan dana dalam suatu transaksi.
Tujuannya mungkin untuk memperoleh barang tanpa membayar, atau untuk memperoleh dana yang tidak sah dari account. penipuan kartu kredit juga merupakan tambahan bagi pencurian identitas
Carding adalah istilah yang digunakan untuk proses untuk memverifikasi keabsahan data kartu dicuri. Pencuri menyajikan informasi kartu pada situs Web yang memiliki pemrosesan transaksi real-time.
Jika kartu tersebut berhasil diproses, si pencuri tahu bahwa kartu masih bagus. Item yang khusus dibeli tidak material, dan pencuri tidak perlu membeli suatu produk yang sebenarnya; berlangganan situs Web atau sumbangan amal akan cukup.
Pembelian tersebut biasanya untuk jumlah uang yang kecil, baik untuk menghindari penggunaan batas kartu kredit, dan juga untuk menghindari menarik perhatian penerbit kartu. Sebuah website yang dikenal rentang terhadap carding dikenal sebagai website cardable.

SERANGAN DoS (denial-of-service attacks)
adalah jenis serangan terhadap sebuah komputer atau server di dalam jaringan internet dengan cara menghabiskan sumber (resource) yang dimiliki oleh komputer tersebut sampai komputer tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya dengan benar sehingga secara tidak langsung mencegah pengguna lain untuk memperoleh akses layanan dari komputer yang diserang tersebut.
Dalam sebuah serangan Denial of Service, si penyerang akan mencoba untuk men cegah akses seorang pengguna terhadap system atau jaringan dengan menggunakan beberapa cara, sebagai berikut :
1. Membanjiri lalu lintas jaringan dengan banyak data sehingga lalu lintas jaringan yang datang dari pengguna yang terdaftar menjadi tidak dapat masuk ke dalam sistem jaringan. Teknik ini disebut sebagai traffic flooding.
2. Membanjiri jaringan dengan banyak request terhadap sebuah layanan jaringan yang disedakan oleh sebuah host sehingga request yang datang dari pengguna terdaftar tidak dapat dilayani oleh layanan tersebut. Teknik ini disebut sebagai request flooding.
3. Mengganggu komunikasi antara sebuah host dan kliennya yang terdaftar dengan menggunakan banyak cara, termasuk dengan mengubah informasi konfigurasi sistem atau bahkan perusakan fisik terhadap komponen dan server.

PEMETAAN ER KE RELASIONAL


Skema relasional yang ditunjukan dalam Gambar 2 diperoleh dari skema ER pada Gambar 1 dengan mengikuti prosedur pemetaan umum. Untuk ilustrasi tiap langkah akan dipakai contoh skema PERUSAHAAN. Ingat bahwa konsep penting dari model E-R adalah tipe entitas (regular dan lemah), tipe relationship dengan derajat-derajat yang berbeda (unari, binary, dan ternary), atribut-atribut (sederhana, bernilai banyak, dan komposit).




Gambar 1: Diagram E-R Database PERUSAHAAN

Skema relasional yang ditunjukan dalam Gambar 2 diperoleh dari diagram E-R pada Gambar 1 dengan mengikuti prosedur pemetaan umum. Untuk ilustrasi tiap langkah akan dipakai contoh skema PERUSAHAAN.


Langkah 1: Untuk setiap tipe entitas regular E dalam skema ER, kita membuat suatu relasi R dengan memasukan semua atribut sederhana yang ada pada E. Untuk atribut komposit kita memasukan komponen-komponen sederhana dari atribut komposit tersebut. Kita memilih satu dari atribut-atribut kunci atau key dari E sebagai kunci utama atau primary key dari E. Jika kunci E yang terpilih komposit maka kumpulan atribut sederhana yang membentuknya akan secara bersama-sama membentuk kunci utama R.

Pada contoh ini, kita membuat relasi PEGAWAI, DEPARTEMEN, dan PROYEK dalam Gambar 2 bersesuaian dengan tipe entitas regular PEGAWAI, DEPARTEMEN, dan PROYEK. Kita memilih NoPeg, NoDep, dan NoPro sebagai kunci utama berturut-turut untuk relasi PEGAWAI, DEPARTEMEN, dan PROYEK.

PEGAWAI
[NamaPeg, NoPeg, TglLhr, Jk, Alamat, Gaji]
                       k.u

DEPARTEMEN
[NamaDep, NoDep]
                       k.u       

PROYEK
[NamaPro, NoPro, Lokasi]
                      k.u

Langkah 2: Untuk setiap tipe entitas lemah L dalam diagram ER dengan tipe entitas pemilik E, kita membuat suatu relasi R dan memasukan semua atribut sederhana (atau komponen-komponen sederhana dari atribut komposit) dari L sebagai atribut-atribut R. Disamping itu, kita memasukan sebagai atribut kunci asing atau foreign key dari R, atribut kunci utama dari relasi yang bersesuaian dengan tipe entitas pemilik E. Ini untuk mengatasi identifikasi tipe relationship L. Kunci utama dari R ialah kombinasi dari kunci utama dari pemilik dan kunci parsial dari tipe entitas lemah L.

Pada contoh, kita membuat relasi TANGGUNGAN pada langkah ke-2 ini bersesuaian dengan tipe entitas lemah TANGGUNGAN. Kita memasukan kunci utama relasi PEGAWAI – bersesuaian dengan tipe entitas pemilik – sebagai atribut TANGGUNGAN. Kunci utama dari relasi TANGGUNGAN ialah kombinasi [NoPeg,NamaTanggungan] karena NamaTanggungan merupakan kunci parsial dari TANGGUNGAN.

TANGGUNGAN
[NoPeg, NamaTanggungan, Jk, TglLhr, Hubungan]
                          k.u

Langkah 3: Untuk setiap relationship bineri 1:1 R dalam skema ER, kita mengidentifikasi relasi S dan T yang bersesuaian dengan tipe-tipe entitas yang berpartisipasi dalam R. Kita memilih satu relasi, misal S, dan memasukan kunci utama dari T sebagai kunci asing dalam S. Lebih baik memilih relasi dengan partisipasi obligasi dalam R. Kita memasukan semua atribut sederhana (atau komponen-komponen sederhana dari atribut komposit) dari tipe relationship biner 1:1 R sebagai atribut-atribut S.

Pada contoh, kita memetakan tipe relationship 1:1 MENGELOLA dari Gambar 1 dengan memilih tipe entitas DEPARTEMEN berperan sebagai S karena partisipasinya obligasi dalam relationship MENGELOLA (yakni, setiap departemen memiliki manajer). Kita memasukan kunci utama dari relasi PEGAWAI sebagai kunci asing dalam relasi DEPARTEMEN dan memberi nama ulang atribut ini menjadi NoPegMjr. Kita juga memasukan atribut sederhana TglMulai dari tipe relationship MENGELOLA ke dalam relasi DEPARTEMEN dan memberi nama ulang atribut ini menjadi TglMulaiMjr, sehingga relasi DEPARTEMEN menjadi

DEPARTEMEN
[NamaDep, NoDep, NoPegMjr, TglMulaiMjr]
                        k.u       k.a

Perhatikan bahwa pemetaan alternatif untuk suatu tipe relationship 1:1 ialah dengan menggabungkan dua tipe entitas dan relationship menjadi satu relasi. Hal ini tepat ketika kedua tipe entitas memiliki partisipasi obligasi dan ketika tipe-tipe entitas ini tidak berpartisipasi dengan tipe relationship yang lainnya.  

Langkah 4: Untuk setiap tipe relationship biner 1:n regular (bukan lemah) R, kita mengidentifikasi relasi S yang merepresentasi tipe entitas pada sisi-N dari tipe relationship tersebut. Kita memasukan sebagai kunci asing, kunci utama dari relasi T yang merepresentasi tipe entitas lainnya yang berpartisipasi dalam R. Ini karena tipa instansi entitas pada sisi-N terhubung ke paling banyak satu instansi entitas pada sisi-1 dari tipe relationship.

Sebagai contoh, pada tipe relationship 1:N BEKERJA_UNTUK, tiap pegawai terhubung ke satu departemen. Kita memasukan atribut-atribut sederhana (atau komponen-komponen sederhana dari atribut komposit) dari tipe relationship 1:N sebagai atribut-atribut S.

Sekarang kita memetakan tipe relationship 1:N BEKERJA_UNTUK dan SUPERVISI dari Gambar 1. Untuk BEKERJA_UNTUK kita memasukan kunci utama dari relasi DEPARTEMEN sebagai kunci asing dalam relasi PEGAWAI dan memberinya nama NomorDep. Untuk SUPERVISI kita memasukan kunci utama dari relasi PEGAWAI sebagai kunci asing dalam relasi PEGAWAI itu sendiri dan memberinya nama NoPegSpv. Relationship KONTROL dipetakan dengan cara yang sama. Relasi PEGAWAI menjadi

PEGAWAI
[NamaPeg, NoPeg, TglLhr, Jk, Alamat, Gaji, NomorDep, NoPegSpv]
                         k.u                                             k.a                k.a

Langkah 5: Untuk tiap relationship biner M:N R, kita membuat suatu relasi baru S untuk merepresentasi R. Kita memasukan, sebagai atribut kunci asing dari S, kunci utama dari relasi-relasi yang merepresentasi partisipasi tipe-tipe entitas. Kombinasi kunci-kunci  utama ini membentuk kunci utama dari S. Kita juga memasukan atribut-atribut sederhana (atau komponen-komponen sederhana dari atribut komposit) sebagai atribut-atribut S.    

Perhatikan bahwa kita tidak dapat merepresentasikan suatu tipe relationship lemah dengan satu atribut kunci asing pada satu dari relasi-relasi yang turut serta dalam relationship – seperti kita lakukan untuk tipe relationship 1:1 atau 1:N – karena kardinalitas M:N.

Pada contoh kasus ini kita memetakan tipe relationship M:N BEKERJA_PADA dari Gambar 1 dengan membuat relasi BEKERJA_PADA. Kita memasukan kunci utama dari relasi PROYEK dan PEGAWAI sebagai kunci asing dalam BEKERJA_PADA dan menamakan kembali masing-masing menjadi NoProyek dan NomorPeg. Kita juga memasukan atribut JamKerja dalam BEKERJA_PADA. Kunci utama dari relasi BEKERJA_PADA ialah kombinasi atribut-atribut kunci asing (NoP, NoProyek).

BEKERJA_PADA
  k.a          k.a
[NoP, NoProyek, JamKerja]
            k.u

Amati bahwa kita selalu dapat memetakan relationship 1:1 atau 1:N dengan cara yang sama dengan relationship M:N. Alternatif ini khusus bermanfaat ketika terdapat sedikit instansi relationship dan menghindari nilai null pada kunci asing.

Langkah 6: Untuk tiap atribut bernilai banyak A, kita membuat suatu relasi baru R yang memasukan suatu atribut yang bersesuaian dengan A ditambah atribut kunci utama K dari relasi yang merepresentasi tipe entitas atau tipe relationship yang memiliki A sebagai atribut. Kunci utama dari R adalah kombinasi A dan K. Jika atribut bernilai banyak ini komposit, kita memasukan komponen-komponen sederhananya.

Pada contoh, kita membuat relasi LOKASI_DEP. Atribut Lokasi merepresentasi atribut bernilai banyak Lokasi dari DEPARTEMEN, sementara NoDep – sebagai kunci asing – merepresentasi kunci utama dari relasi DEPARTEMEN. Kunci utama dari LOKASI_DEP ialah kombinasi dari (NoDep, Lokasi). Tupel terpisah akan muncul untuk setiap lokasi yang dimiliki oleh suatu departemen.

LOKASI_DEP
 [NoDep, Lokasi]
            k.u


Keseluruhan hasil pemetaan database PERUSAHAAN menjadi sebagai berikut:

PEGAWAI
[NamaPeg, NoPeg, TglLhr, Jk, Alamat, Gaji, NomorDep, NoPegSpv]
                       k.u                                               k.a                k.a

DEPARTEMEN
[NamaDep, NoDep, NoPegMjr, TglMulaiMjr]
                        k.u       k.a

PROYEK
[NamaPro, NoPro, Lokasi, NoDep]
                      k.u                   k.a        

LOKASI_DEP
 [NoDep, Lokasi]
            k.u

BEKERJA_PADA
  k.a          k.a
[NoP, NoProyek, JamKerja]
            k.u

TANGGUNGAN
[NoPeg, NamaTanggungan, Jk, TglLhr, Hubungan]
                          k.u

TEORI BAHASA DAN AUTOMATA



I.       PENDAHULUAN

Teori Bahasa

Teori bahasa membicarakan bahasa formal (formal language), terutama untuk kepentingan perancangan kompilator (compiler) dan pemroses naskah (text processor). Bahasa formal adalah kumpulan kalimat. Semua kalimat dalam sebuah bahasa dibangkitkan oleh sebuah tata bahasa (grammar) yang sama. Sebuah bahasa formal bisa dibangkitkan oleh dua atau lebih tata bahasa berbeda. Dikatakan bahasa formal karena grammar diciptakan mendahului pembangkitan setiap kalimatnya. Bahasa manusia bersifat sebaliknya; grammar diciptakan untuk meresmikan kata-kata yang hidup di masyarakat. Dalam pembicaraan selanjutnya ‘bahasa formal’ akan disebut ‘bahasa’ saja.

Automata

Automata adalah mesin abstrak yang dapat mengenali (recognize), menerima (accept), atau membangkitkan (generate) sebuah kalimat dalam bahasa tertentu.

Beberapa Pengertian Dasar

·         Simbol adalah sebuah entitas abstrak (seperti halnya pengertian titik dalam geometri). Sebuah huruf atau sebuah angka adalah contoh simbol.
·         String adalah deretan terbatas (finite) simbol-simbol. Sebagai contoh, jika a, b, dan c adalah tiga buah simbol maka abcb adalah sebuah string yang dibangun dari ketiga simbol tersebut.
·         Jika w adalah sebuah string maka panjang string dinyatakan sebagai ïwï dan didefinisikan sebagai cacahan (banyaknya) simbol yang menyusun string tersebut. Sebagai contoh, jika w = abcb maka ïwï= 4.
·         String hampa adalah sebuah string dengan nol buah simbol. String hampa dinyatakan dengan simbol e (atau ^) sehingga ïeï= 0. String hampa dapat dipandang sebagai simbol hampa karena keduanya tersusun dari nol buah simbol.
·         Alfabet adalah hinpunan hingga (finite set) simbol-simbol

Operasi Dasar String

Diberikan dua string : x = abc, dan y = 123
·         Prefik string w adalah string yang dihasilkan dari string w dengan menghilangkan nol atau lebih simbol-simbol paling belakang dari string w tersebut.
Contoh : abc, ab, a, dan e adalah semua Prefix(x)
·         ProperPrefix string w adalah string yang dihasilkan dari string w dengan menghilangkan satu atau lebih simbol-simbol paling belakang dari string w tersebut.
Contoh : ab, a, dan e adalah semua ProperPrefix(x)
·         Postfix (atau Sufix) string w adalah string yang dihasilkan dari string w dengan menghilangkan nol atau lebih simbol-simbol paling depan dari string w tersebut.
Contoh : abc, bc, c, dan e adalah semua Postfix(x)
·         ProperPostfix (atau PoperSufix) string w adalah string yang dihasilkan dari string w dengan menghilangkan satu atau lebih simbol-simbol paling depan dari string w tersebut.
Contoh : bc, c, dan e adalah semua ProperPostfix(x)
·         Head string w adalah simbol paling depan dari string w.
Contoh : a adalah Head(x)

·         Tail string w adalah string yang dihasilkan dari string w dengan menghilangkan simbol paling depan dari string w tersebut.
Contoh : bc adalah Tail(x)
·         Substring string w adalah string yang dihasilkan dari string w dengan menghilangkan nol atau lebih simbol-simbol paling depan dan/atau simbol-simbol paling belakang dari string w tersebut.
Contoh : abc, ab, bc, a, b, c, dan e adalah semua Substring(x)
·         ProperSubstring string w adalah string yang dihasilkan dari string w dengan menghilangkan satu atau lebih simbol-simbol paling depan dan/atau simbol-simbol paling belakang dari string w tersebut.
Contoh : ab, bc, a, b, c, dan e adalah semua Substring(x)
·         Subsequence string w adalah string yang dihasilkan dari string w dengan menghilangkan nol atau lebih simbol-simbol dari string w tersebut.
Contoh : abc, ab, bc, ac, a, b, c, dan e adalah semua Subsequence(x)
·         ProperSubsequence string w adalah string yang dihasilkan dari string w dengan menghilangkan satu atau lebih simbol-simbol dari string w tersebut.
Contoh : ab, bc, ac, a, b, c, dan e adalah semua Subsequence(x)
·         Concatenation adalah penyambungan dua buah string. Operator concatenation adalah concate atau tanpa lambang apapun.
Contoh : concate(xy) = xy = abc123
·         Alternation adalah pilihan satu di antara dua buah string. Operator alternation adalah alternate atau ½.
Contoh : alternate(xy) = x½y = abc atau 123
·         Kleene Closure : x* = e½x½xx½xxx½… = e½x½x½x½…
·         Positive Closure : x = x½xx½xxx½… = x½x½x½…

Beberapa Sifat Operasi

·         Tidak selalu berlaku : x = Prefix(x)Postfix(x)
·         Selalu berlaku : x = Head(x)Tail(x)
·         Tidak selalu berlaku : Prefix(x) = Postfix(x) atau Prefix(x) ¹ Postfix(x)
·         Selalu berlaku : ProperPrefix(x) ¹ ProperPostfix(x)
·         Selalu berlaku : Head(x) ¹ Tail(x)
·         Setiap Prefix(x), ProperPrefix(x), Postfix(x), ProperPostfix(x), Head(x), dan Tail(x) adalah Substring(x), tetapi tidak sebaliknya
·         Setiap Substring(x) adalah Subsequence(x), tetapi tidak sebaliknya
·         Dua sifat aljabar concatenation :
¨      Operasi concatenation bersifat asosiatif : x(yz) = (xy)z
¨      Elemen identitas operasi concatenation adalah e : ex = xe = x
·         Tiga sifat aljabar alternation :
¨      Operasi alternation bersifat komutatif : x½y = y½x
¨      Operasi alternation bersifat asosiatif : x½(y½z) = (x½y)½z
¨      Elemen identitas operasi alternation adalah dirinya sendiri : x½x = x
·         Sifat distributif concatenation terhadap alternation : x (y½z) = xy½xz
·         Beberapa kesamaan :
¨      Kesamaan ke-1 : (x*)* = (x*)
¨      Kesamaan ke-2 : e½x = x½e = x*
¨      Kesamaan ke-3 : (x½y)* = e½x½y½xx½yy½xy½yx½… = semua string yang merupakan concatenation dari nol atau lebih x, y, atau keduanya.
II.    GRAMMAR DAN BAHASA

Konsep Dasar

1.      Dalam pembicaraan grammar, anggota alfabet dinamakan simbol terminal atau token.
2.      Kalimat adalah deretan hingga simbol-simbol terminal.
3.      Bahasa adalah himpunan kalimat-kalimat. Anggota bahasa bisa tak hingga kalimat.
4.      Simbol-simbol berikut adalah simbol terminal :
·         huruf kecil awal alfabet, misalnya : a, b, c
·         simbol operator, misalnya : +, -, dan ´
·         simbol tanda baca, misalnya : (, ), dan ;
·         string yang tercetak tebal, misalnya : if, then, dan else.
5.      Simbol-simbol berikut adalah simbol non terminal :
·         huruf besar awal alfabet, misalnya : A, B, C
·         huruf S sebagai simbol awal
·         string yang tercetak miring, misalnya : expr dan stmt.
6.      Huruf besar akhir alfabet melambangkan simbol terminal atau non terminal, misalnya : X, Y, Z.
7.      Huruf kecil akhir alfabet melambangkan string yang tersusun atas simbol-simbol terminal, misalnya : x, y, z.
8.      Huruf yunani melambangkan string yang tersusun atas simbol-simbol terminal atau simbol-simbol non terminal atau campuran keduanya, misalnya : a, b, dan g.
9.      Sebuah produksi dilambangkan sebagai a ® b, artinya : dalam sebuah derivasi dapat dilakukan penggantian simbol a dengan simbol b.
10.  Simbol a dalam produksi berbentuk a ® b disebut ruas kiri produksi sedangkan simbol b disebut ruas kanan produksi.
11.  Derivasi adalah proses pembentukan sebuah kalimat atau sentensial. Sebuah derivasi dilambangkan sebagai : a Þ b.
12.  Sentensial adalah string yang tersusun atas simbol-simbol terminal atau simbol-simbol non terminal atau campuran keduanya.
13.  Kalimat adalah string yang tersusun atas simbol-simbol terminal. Jelaslah bahwa kalimat adalah kasus khusus dari sentensial.
14.  Pengertian terminal berasal dari kata terminate (berakhir), maksudnya derivasi berakhir jika sentensial yang dihasilkan adalah sebuah kalimat (yang tersusun atas simbol-simbol terminal itu).
15.  Pengertian non terminal berasal dari kata not terminate (belum/tidak berakhir), maksudnya derivasi belum/tidak berakhir jika sentensial yang dihasilkan mengandung simbol non terminal.

Grammar dan Klasifikasi Chomsky

Grammar G didefinisikan sebagai pasangan 4 tuple : V, V, S, dan Q, dan dituliskan sebagai G(V, V, S, Q), dimana :
V         : himpunan  simbol-simbol  terminal  (atau  himpunan  token -token, atau alfabet)
V        : himpunan simbol-simbol non terminal
S Î V : simbol awal (atau simbol start)
Q         : himpunan produksi

Berdasarkan komposisi bentuk ruas kiri dan ruas kanan produksinya (a ® b), Noam Chomsky mengklasifikasikan 4 tipe grammar :
1.      Grammar tipe ke-0 : Unrestricted Grammar (UG)
Ciri : a, b Î (V½V)*, ïaï> 0
2.      Grammar tipe ke-1 : Context Sensitive Grammar (CSG)
Ciri : a, b Î (V½V)*, 0 < ïaï £ ïbï
3.      Grammar tipe ke-2 : Context Free Grammar (CFG)
Ciri : a Î V, b Î (V½V)*
4.      Grammar tipe ke-3 : Regular Grammar (RG)
Ciri : a Î V, b Î {V, VV} atau a Î V, b Î {V, VV}

Mengingat ketentuan simbol-simbol (hal. 3 no. 4 dan 5), ciri-ciri RG sering dituliskan sebagai : a Î V, b Î {a, bC} atau a Î V, b Î {a, Bc}

Tipe sebuah grammar (atau bahasa) ditentukan dengan aturan sebagai berikut :

A language is said to be type-i (i = 0, 1, 2, 3) language if it can be specified by a type-i grammar but can’t be specified any type-(i+1) grammar.

Contoh Analisa Penentuan Type Grammar

1.      Grammar G dengan Q = {S ® aB, B ® bB, B ® b}. Ruas kiri semua produksinya terdiri dari sebuah V maka G kemungkinan tipe CFG atau RG. Selanjutnya karena semua ruas kanannya terdiri dari sebuah V atau string VV maka G adalah RG.
2.      Grammar G dengan Q = {S ® Ba, B ® Bb, B ® b}. Ruas kiri semua produksinya terdiri dari sebuah V maka G kemungkinan tipe CFG atau RG. Selanjutnya karena semua ruas kanannya terdiri dari sebuah V atau string VV maka G adalah RG.
3.      Grammar G dengan Q = {S ® Ba, B ® bB, B ® b}. Ruas kiri semua produksinya terdiri dari sebuah V maka G kemungkinan tipe CFG atau RG. Selanjutnya karena ruas kanannya mengandung string VV (yaitu bB) dan juga string VV (Ba) maka G bukan RG, dengan kata lain G adalah CFG.
4.      Grammar G dengan Q = {S ® aAb, B ® aB}. Ruas kiri semua produksinya terdiri dari sebuah V maka G kemungkinan tipe CFG atau RG. Selanjutnya karena ruas kanannya mengandung string yang panjangnya lebih dari 2 (yaitu aAb) maka G bukan RG, dengan kata lain G adalah CFG.
5.      Grammar G dengan Q = {S ® aA, S ® aB, aAb ® aBCb}. Ruas kirinya mengandung string yang panjangnya lebih dari 1 (yaitu aAb) maka G kemungkinan tipe CSG atau UG. Selanjutnya karena semua ruas kirinya lebih pendek atau sama dengan ruas kananya maka G adalah CSG.
6.      Grammar G dengan Q = {aS ® ab, SAc ® bc}. Ruas kirinya mengandung string yang panjangnya lebih dari 1 maka G kemungkinan tipe CSG atau UG. Selanjutnya karena terdapat ruas kirinya yang lebih panjang daripada ruas kananya (yaitu SAc) maka G adalah UG.

Derivasi Kalimat dan Penentuan Bahasa

Tentukan bahasa dari masing-masing gramar berikut :
1.      G dengan Q = {1. S ® aAa,  2. A ® aAa,  3. A ® b}.
Jawab :
Derivasi kalimat terpendek :                     Derivasi kalimat umum :
S Þ aAa   (1)                                            S Þ aAa         (1)
   Þ aba     (3)                                               Þ aaAaa      (2)
                                                                       ¼
                                                                     Þ aAa    (2)
                                                                     Þ aba     (3)
Dari pola kedua kalimat disimpulkan : L(G) = { aba½ n ³ 1}

2.      G dengan Q = {1. S ® aS,  2. S ® aB,  3. B ® bC,  4. C ® aC,  5. C ® a}.
Jawab :
Derivasi kalimat terpendek :                     Derivasi kalimat umum :
S Þ aB     (2)                                            S Þ aS                        (1)
   Þ abC    (3)                                                 ¼
   Þ aba     (5)                                               Þ aS                   (1)    
                                                                     Þ aB                     (2)
                                                                     Þ abC                   (3)
                                                                     Þ abaC                 (4)
                                                                       ¼
                                                                     Þ abaC           (4)
                                                                     Þ aba                (5)
Dari pola kedua kalimat disimpulkan : L (G) = { aba½ n ³ 1, m ³ 1}

3.      G dengan Q = {1. S ® aSBC,  2. S ® abC,  3. bB ® bb, 
 4. bC ® bc,  5. CB ® BC,  6. cC ® cc}.
Jawab :
Derivasi kalimat terpendek 1:                   Derivasi kalimat terpendek 3 :
S Þ abC   (2)                                            S Þ aSBC                  (1)
   Þ abc     (4)                                               Þ aaSBCBC           (1)
Derivasi kalimat terpendek 2 :                     Þ aaabCBCBC       (2)
S Þ aSBC            (1)                                   Þ aaabBCCBC       (5)
   Þ aabCBC        (2)                                   Þ aaabBCBCC       (5)
   Þ aabBCC        (5)                                   Þ aaabBBCCC       (5)
   Þ aabbCC         (3)                                   Þ aaabbBCCC        (3)
   Þ aabbcC          (4)                                   Þ aaabbbCCC         (3)
   Þ aabbcc           (6)                                   Þ aaabbbcCC          (4)
                                                                     Þ aaabbbccC           (6)
                                                                     Þ aaabbbccc            (6)
Dari pola ketiga kalimat disimpulkan : L (G) = { abc½ n ³ 1}




Menentukan Grammar Sebuah Bahasa

1.      Tentukan sebuah gramar regular untuk bahasa L = { a½ n ³ 1}
Jawab :
Q(L) = {S ® aS½a}
2.      Tentukan sebuah gramar bebas konteks untuk bahasa :

L : himpunan bilangan bulat non negatif ganjil

Jawab :
Langkah kunci : digit terakhir bilangan harus ganjil.
Buat dua buah himpunan bilangan terpisah : genap (G) dan ganjil (J)
Q(L) = {S ® J½GS½JS,  G ® 0½2½4½6½8,  J ® 1½3½5½7½9}
3.      Tentukan sebuah gramar bebas konteks untuk bahasa :

L = himpunan semua identifier yang sah menurut bahasa pemrograman Pascal dengan batasan : terdiri dari simbol huruf kecil dan angka, panjang identifier boleh lebih dari 8 karakter

Jawab :
Langkah kunci : karakter pertama identifier harus huruf.
Buat dua buah himpunan bilangan terpisah : huruf (H) dan angka (A)
Q(L) = {S ® H½HT, T ® AT½HT½H½A,  H ® a½b½c½…,  A ® 0½1½2½…}
4.      Tentukan gramar bebas konteks untuk bahasa L(G) = {ab½n,m ³ 1, n ¹ m}
Jawab :
Langkah kunci : sulit untuk mendefinisikan L(G) secara langsung. Jalan keluarnya adalah dengan mengingat bahwa x ¹ y berarti x > y atau x < y.
L = LÈ L,  L ={ab½n  > m ³ 1}, L = {ab½1 £ n  < m}.
Q(L) = {A ® aA½aC, C ® aCb½ab}, Q(L) = {B ® Bb½Db, D® aDb½ab}
Q(L) = {S® A½B, A ® aA½aC, C ® aCb½ab, B ® Bb½Db, D® aDb½ab}
5.      Tentukan sebuah gramar bebas konteks untuk bahasa :
L = bilangan bulat non negatif genap. Jika bilangan tersebut terdiri dari dua digit atau lebih maka nol tidak boleh muncul sebagai digit pertama.
Jawab :
Langkah kunci : Digit terakhir bilangan harus genap. Digit pertama tidak boleh nol. Buat tiga himpunan terpisah : bilangan genap tanpa nol (G), bilangan genap dengan nol (N), serta bilangan ganjil (J).
Q(L) = {S ® N½GA½JA, A ® N½NA½JA, G® 2½4½6½8,  N® 0½2½4½6½8, J ® 1½3½5½7½9}